Sandi Culik Anak Kekasihnya, karena Sakit Hati Diputus Cinta 

Tersangka Sandi Saputra alias Panca (35) ditangkap polisi di Lampung lantaran menculik seorang anak mantan kekasihnya yang berumur sepuluh tahun.

PALUGADANEWS.COM, MUARA ENIM — Sandi Saputra alias Panca (35) ditangkap polisi lantaran menculik seorang anak mantan kekasihnya yang berumur sepuluh tahun. Dia ditangkap di Hotel Jahtera, Kecamatan Banjar Agung, Kabupaten Tulang Bawang, Lampung, Minggu (11/06/2017).

Anak tersebut diculik karena pelaku sakit hati setelah diputuskan cintanya oleh ibu sang anak yang juga mantan kekasihnya.


Berita Lainnya: Polisi Gerebek Pabrik Tahu Berformalin di Lawang Kidul


Pelaku mengenal ibu korban E (34) melalui jejaring media sosial Facebook. Saat itu E baru 3 bulan bekerja di Taiwan sebagai Tenga Kerja Wanita (TKW. Keduanya kemudian memutuskan untuk berpacaran.

Setelah berpacaran, E kemudian meminta tersangka menemui anak dan ibunya di Desa Talang Tebat, Kecamatan Lubai, Kabupaten Muara Enim untuk membantu merawat dan mengurus kebun karet. Selama dua bulan tersangka tinggal di rumah orang tua E, namun entah kenapa E kemudia memutuskan hubungan dengan tersangka.

Merasa sakit hati karena diputuskan, tersangka nekad menculik anak E dan membawanya ke Lampung. Tersangka lalu menelepon ibu korban meminta uang tebusan Rp50 juta. Keluarga korban pun sudah mengirimkan uang Rp7 juta kepada tersangka dan melapor ke Polres Muara Enim.

Kapolres Muara Enim AKBP Leo Andi Gunawan melalui Kasat Reskrim AKP Agus Prihadi dan Kasubag Humas AKP Arsyad mengatakan, tersangka menculik anak E, Minggu 4 Juni 2017 .

“Tersangka berpura-pura mengajak korban jajan. Namun hingga sore hari korban tak kunjung pulang, keluargapun lalu melapor ke Polisi,” jelas Leo di halaman Satreskrim Polres Muara Enim, Senin (12/06/2017).

Korban yang diculik selama sepekan, kerap menerima tindak kekerasan dari tersangka yaitu ditampar bagian wajahnya sebanyak 5 kali. “Korban dipukul kalau rewel dan menangis,” tambah Leo.

Sementara itu, Kabid Perlindungan Perempuan dan Pemenuhan Hak Anak pada Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Anak Muara Enim, Salamah Nuraini mengatakan, korban mendapat kekerasan secara verbal dan diberi makan hanya nasi putih satu kali sehari.

“Saat ini kondisi korban sudah membaik pasca trauma. Kami dampingi korban secara psikologis dan saat ini berada di Rumah Aman Kabupaten Muara Enim,” tutur Salamah.

Akibat perbuatannya tersebut tersangka dijerat pasal 333 KUHP atau pasal 83 UU Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak.