Tentara Myanmar Lakukan Genosida terhadap Muslim Rohingya

Ratusan rumah terbakar di kawasan-Rakhine (Foto: AFP)

Ratusan rumah terbakar di kawasan-Rakhine (Foto: AFP)

PALUGADANEWS.COM, Pendiri Fortify Rights di Bangkok, Matthew Smith mengatakan, tentara Myanmar saat ini sedang melakukan genosida terhadap suku Rohingya. Mereka melakukan segala cara untuk memusnahkan suku Rohingya dari muka bumi.

Militer Myanmar, ujar Smith, sedang memusnahkan umat Muslim di Rakhine. Mereka sedang melakukan kejahatan internasional.

“Kami telah mendokumentasikan bagaimana pemerintah di Rakhine berencana menghancurkan rumah-rumah suku Rohingya sebelum terjadinya kerusuhan Oktober lalu. Dokumen itu menunjukkan bagaimana strategi mereka menghancurkan Muslim Rohingya,” katanya seperti di lansir dari republika.co.id.

BERITA LAIN:

Sementara itu, lebih dari 150 orang muslim Rohingya telah tewas dalam operasi kontra pemerintah di negara bagian barat Rakhine, Sabtu lalu.

Organisasi pendukung Muslim Rohingya mengatakan Pemerintah Myanmar berusaha untuk menutupi pembunuhan dengan membatasi akses media dan bantuan sejumlah kelompok dari daerah lain.

“Alasan mengapa kantor berita internasional dan kelompok bantuan tidak diizinkan untuk pergi ke sana adalah karena militer berusaha untuk menutupi apa yang mereka lakukan di sana, pembunuhan dan lain-lain. Mereka berbohong,” kata Linn dari Organisasi Nasional Arakan Rohingya dikutip dari Asian Correspondent.

Desa-Desa Hangus

Beberapa laporan yang dirilis Human Rights Watch menyebutkan, sejumlah desa di kawasan Rakhine terbakar. Foto yang dirilis oleh organisasi hak asasi manusia ini menunjukkan setidaknya 430 banguanan di desa-desa terbakar.

Foto-foto satelit itu diambil antara 22 Oktober dan 10 November, menyusul laporan terjadinya pertempuran dan mengungsinya warga sipil bulan lalu.

Para aktivis Rohingya mengatakan pemerintah berusaha secara sistematis untuk mengusir minoritas Muslim dari desa-desa mereka. Menyerang Rohingya adalah langkah populer untuk militer, karena kaum Rohingya tidak disukai oleh banyak orang Burma yang menganggap mereka imigran ilegal dari Bangladesh.